OPINI  

Peran Penting Industri Tekstil dan Produk Tekstil Terhadap Perekonomian Indonesia

BANDUNG . JABAR.KABARDAERAH.COM — Industri merupakan salah satu pilar utama di dalam pembangunan perekonomian nasional. Melalui kegiatan industrial, negara dapat menyelenggarakan kegiatan perekonomian seperti kegiatan produksi, penyerapan tenaga kerja, peningkatan investasi, sampai pada kegiatan pemenuhan rantai pasok dan ekspor-impor.

Salah satu industri yang ada di negara Indonesia adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Industri TPT telah banyak memberikan kontribusi terhadap pembangunan perekonomian pada beberapa negara, salah satunya Indonesia.

Menghadapi kondisi pasar terbuka pada negara-negara Asia dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ataupun global, Indonesia tidak bisa lepas dari konsekuensi untuk menguatkan struktur perekonomian nasional salah satunya yaitu penguatan sektor industri. Industri menjadi pilar yang yang penting karena dapat menjadi lokomotif pertumbuhan perekonomian nasional menuju negara maju.

Pembangunan dan pengembangan industri dapat menyerap banyak tenaga kerja, kondisi itu akan memberikan nilai tambah pada perekonomian yaitu sebagai sumber devisa secara fundamental. Industri TPT merupakan sektor industri manufaktur yang juga dikategorikan sebagai industri padat karya.

Pada sektor industri TPT, jumlah penyerapan tenaga kerja sangat besar khususnya pada bagian sub sektor industri produk tekstil ataupun pakaian jadi. Saat ini, Industri TPT juga tidak terlepas dari persaingan global yang mempengaruhi kondisi industri dalam negeri. Penguatan industri tekstil nasional sangat diperlukan untuk keberlanjutan industri tekstil memberikan peran yang signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Sebagai salah satu sub sektor pada industri manufaktur nasional, industri TPT memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian. Hal ini bisa dilihat pada kontribusi industri TPT dalam penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai investasi, nilai ekspor produk serta kontribusi industri pada Produk Domestic Bruto (PDB). Industri TPT juga merupakan industri yang sudah terintegrasi lengkap, dari industri hulu sampai ke hilir secara nasional tersedia di dalam negeri.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri tekstil produk tekstil kulit dan alas kaki menyerap sebanyak 4,7 juta tenaga kerja dari total pekerja industri manufaktur nasional pada tahun 2022 lalu. Kontribusi tersebut berdasarkan atas penyerapan industri tekstil dan pakaian jadi sebanyak 3,7 juta tenaga kerja dan sub sektor industri kulit dan alas kaki sebanyak 947 ribu tenaga kerja.

Berdasarkan kondisi tersebut, industri TPT bisa dikatakan juga sebagai jaring pengaman sosial masyarakat. Sebanyak hampir 5 juta masyarakat bekerja pada sektor industri TPT. Hal ini mendukung peningkatan perekonomian dengan meningkatkan konsumsi dan daya beli masyarakat. Industri TPT bagian hilir seperti garmen menjadi sektor terbesar penyerapan tenaga kerja Indonesia.

Badan Pusat Statistik mencatat, PDB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) industri tekstil dan pakaian jadi pada kuartal II/2023 sebesar Rp 34,8 triliun. Nilai tersebut turun sebesar 1,7% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year on year).

Pada analisis tahunan, industri tekstil dan pakaian jadi sudah mencatatkan tren positif dari nilai kontraksi PDB sejak kuartal IV/2021 yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Nilai ekspor pakaian jadi juga mencatatkan pemulihan secara bertahap, tahun 2022 lalu nilai ekspor untuk pakaian jadi dari tekstil sebesar 334 ribu ton dengan USA tetap sebagai negara utama tujuan ekspor.

Melihat bahwa pentingnya industri TPT bagi perekonomian Indonesia, perlu juga dikaji tentang tantangan yang dihadapi oleh sektor industri ini. Hal ini juga digunakan untuk Menyusun strategi penguatan bagi industri TPT. Persaingan global, kekurangan bahan baku industri, regulasi dan kebijakan hingga maraknya importasi ilegal ditengarai menjadi beberapa masalah pada industri ini.

Komposisi impor yang sangat besar menjadikan pertumbuhan industri tekstil terpuruk dan sulit bersaing baik di dalam maupun di luar negeri (Kemenperin, 2022). Menurut data BPS, pertumbuhan ekspor industri tekstil tidak lebih dari 3 persen dalam 10 tahun terakhir. Sedangkan nilai pertumbuhan impor meningkat pesat bahkan lebih dari 20 persen. Kondisi ini tentu menjadi masalah karena bahkan pasar dalam negeri dikuasai oleh derasnya banjir produk impor.

Kondisi impor yang berlebih tersebut ditambah dengan banyaknya temuan importasi ilegal. Kegiatan persaingan tidak sehat seperti impor ilegal ini tentu sangat mengkhawatirkan. Sebagaimana disebutkan di atas, industri TPT merupakan sektor ekonomi yang signifikan di Indonesia. Penurunan produksi dan penjualan akibat aktivitas impor ilegal ini dapat berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Kegiatan impor ilegal juga akan mengurangi pendapatan pajak dan penerimaan negara yang secara langsung memberikan kerugian pada perekonomian nasional.

Dari beberapa uraian permasalahan di atas, integrasi peraturan dan kebijakan untuk industri TPT sangat penting untuk dilakukan. Industri TPT sebagai salah satu pilar penting perekonomian nasional mengharuskan adanya peraturan perundang-undangan yang kokoh dan terintegrasi. Hal itu untuk menjamin adanya perlindungan terhadap produsen lokal, mendorong inovasi dan pengembangan, mengurangi praktik tidak sehat seperti impor ilegal dan lainnya, peningkatan investasi serta pengelolaan rantai pasok industri tekstil dan produk tekstil.

Penulis: Agus Riyanto

– Mahasiswa Magister Ekonomi Terapan UNPAD
– Pengurus IKA Politeknik STTT Bandung 2023-2027
– Koordinator Nasional Jaringan Anggota Muda-Ikatan Alumni Tekstil Seluruh Indonesia (JAM IKATSI)